Inflasi Y on Y Sumut Capai 3,86% Tertinggi Di Gunung Sitoli 6,30 %




Medan | Elindonews.my.id



Berdasarkan hasil pemantauan, pada Maret terjadi inflasi y-on-y sebesar 3,86%, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,37 pada Maret 2025 menjadi 111,51 pada Maret 2026.


Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, mengatakan, inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 6,30% dengan IHK sebesar 114,90, dan terendah terjadi di Kabupaten Karo sebesar 3,01% dengan IHK sebesar 110,79.


Secara month to month (m-to-m) atau bulan ke bulan, maka Sumatra Utara mengalami deflasi sebesar 0,13% dan secara year to date (y-to-d) atau tahun berjalan, terjadi deflasi sebesar 0,66%.


"Secara m-to-m, deflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Labuhanbatu yakni sebesar 0,57%, dan yang terendah terjadi di Kota Padangsidimpuan dan Kota Medan yakni sebesar 0,01," ujar Asim Saputra, Rabu 01/04/26.


Secara rinci dikatakan, inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sepuluh indeks kelompok pengeluaran.


Kelompok makanan, minuman dan tembakau naik sebesar 3,50%; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,53%; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 6,73%; kelompok kesehatan sebesar 2,54%.


Kemudian kelompok transportasi sebesar 1,54%; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,50%; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,75%;


kelompok pendidikan sebesar 2,71% ; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,37% ; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 14,77%.


"Sedangkan kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami penurunan sebesar 0,23%." paparnya.


Jika dilihat berdasarkan komoditas, lanjut Asim, yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada Maret 2026, antara lain tarif listrik sebesar 0,90%; emas perhiasan sebesar 0,85%; daging ayam ras sebesar 0,36%; beras sebesar 0,28%; dan ikan dencis sebesar 0,21%.


Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, antara lain cabai merah sebesar 0,31%; kentang sebesar 0,%18%; bawang putih sebesar 0,14%; cabai rawit sebesar 0,11%; dan bawang merah sebesar 0,09%.


"Sementara komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi m-to-m pada Maret 2026, antara lain cabai merah sebesar 0,19%; tomat sebesar 0,13%; cabai rawit sebesar 0,09%; emas perhiasan sebesar 0,07%; bawang merah sebesar 0,05%; dan angkutan udara sebesar 0,03%," tuturnya.


Asim menambahkan, andil deflasi cabai merah terdalam pada Maret 2026 dialami Kota Padangsidimpuan, yakni sebesar 0,34% (m-to-m), dan secara kumulatif hingga Maret 2026, cabai merah mengalami deflasi sebesar 42,83% (y-to-d).

redaksi






Tidak ada komentar:

Posting Komentar