BANJIR : Ujian Tuhan atau Akibat Ulah Manusia?
Medan | Elindonews.my.id
Bencana alam seperti banjir dan longsor kembali terjadi di berbagai wilayah di Indonesia menjelang akhir tahun 2025. Setiap kali bencana datang, kita kerap mendengar ungkapan yang akrab di telinga: “Sabar… semoga tabah menghadapi ujian dari Tuhan.”
Namun muncul pertanyaan mendasar: benarkah bencana seperti banjir ini murni cobaan dari Tuhan? Ataukah sebenarnya merupakan akibat dari ulah manusia yang lalai merawat alam?
Ketika Alam Tak Lagi Bersahabat
Beberapa tahun silam, beredar cerita tentang rapat para ahli spiritual di Jerman. Kesimpulan mereka cukup menampar kesadaran: bencana alam terjadi karena manusia tidak mencintai air, tanah, dan udara sebagai bagian dari kehidupan.
Pesan ini seharusnya menjadi renungan bersama, sebab alam adalah sumber hidup. Tanpa merawatnya, mustahil kita berharap hidup yang baik.
Di Indonesia, bencana hidrometeorologi kini semakin sering terjadi. Tanah longsor, banjir bandang, hingga ribuan warga terdampak adalah potret betapa rapuhnya hubungan manusia dan alam.
Kenangan Masa Lalu: Hidup Selaras Dengan Alam
Penulis teringat masa kecil di era 1960-an, ketika hidup banyak bergantung pada alam. Air bersih diambil dari sumur, sementara memasak menggunakan kayu bakar. Meski hidup sederhana, ada satu hal yang sangat dijaga: menghormati alam.
Orangtua selalu berpesan:
“Ambil kayu yang sudah jatuh atau yang sudah kering. Jangan sekali-kali menebang sembarangan.”
Ketika tinggal di kampung bersama nenek, pesan yang sama kembali ditekankan. Anak-anak dilarang merusak pohon karena kayu adalah sumber kehidupan—untuk tempat tinggal, perabot, hingga api untuk memasak.
Generasi masa itu tumbuh dengan kesadaran bahwa alam bukan untuk dieksploitasi, tetapi untuk dijaga.
Banjir dan Ketidakcintaan Kita pada Alam
Kini, keadaan berubah. Di kota-kota, parit penuh sampah. Sungai dangkal dan dipersempit bangunan. Hutan gundul akibat pembalakan liar. Air dan udara tercemar oleh berbagai limbah.
Lalu ketika banjir datang, kita menyebutnya “cobaan”. Padahal, sebagian besar penyebabnya adalah ketidakpedulian manusia.
Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), banjir memang dapat dipicu oleh curah hujan tinggi dan kapasitas sungai yang menurun. Tetapi BPBD menegaskan bahwa faktor manusia menyumbang kerusakan yang jauh lebih besar:
- Sampah menumpuk di sungai
- Saluran air tidak terawat
- Drainase buruk
- Tata ruang abai terhadap kawasan resapan
- Pembangunan di bantaran sungai
Minimnya penghijauan dan reboisasi
Ketika hujan turun deras, air tak menemukan tempat mengalir. Akibatnya, meluap dan merendam permukiman.
Dampak Banjir: Bukan Sekadar Genangan
Banjir tidak hanya merusak rumah dan harta benda. Dalam banyak kasus, banjir juga: mencemari sumber air bersih, memicu penyebaran penyakit, merusak lahan pertanian, menyebabkan gagal panen, hingga menimbulkan korban jiwa.
Bencana ini bukanlah hal remeh. Ia menghantam sendi kehidupan masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah rentan.
Mitigasi: Tanggung Jawab Bersama
Mitigasi bencana banjir bukan sekadar tugas pemerintah, tetapi kewajiban bersama. Masyarakat dapat mengambil langkah-langkah sederhana namun berdampak besar:
membersihkan drainasedan saluran air secara berkala, tidak membuang sampah sembarangan, menanam kembali pohon-pohon yang ditebang, menjaga kawasan resapan, menghindari pembangunan di bantaran sungai.
Upaya kecil ini, jika dilakukan bersama, dapat mengurangi risiko bencana di masa depan.
Sebagian bencana memang berasal dari alam. Namun banyak yang justru dipicu oleh ulah manusia sendiri. Karena itu, sebagai masyarakat yang tangguh bencana, kita harus bersiap dan selalu waspada.
Akhirnya, Kembali Pada Kesadaran
Ketika bencana datang, nasihat “sabar dan tabah menghadapi cobaan” tentu menguatkan. Namun biarlah nasihat itu juga menjadi cambuk kesadaran, bahwa alam harus dicintai agar hidup tetap berlanjut.
Sebab jika manusia tidak mencintai alam, alam pun tak lagi ramah kepada manusia.
Salam.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar