Pemeliharaan Kamtibmas di Kota Medan

 Pemeliharaan Kamtibmas di Kota Medan

“Begal dan Narkoba Musuh Kita Bersama”



Penulis : Taulim P. Matondang, pengamat sosial Prov Sumut



Ini… Medan Bung!



Kalimat itu dulu bagai semboyan tak resmi anak muda Kota Medan—kadang terdengar gagah, kadang menakutkan, sekaligus menjadi penanda bahwa pertengkaran bisa pecah kapan saja. Tak ada yang tahu siapa yang pertama mengucapkannya, tetapi penulis masih mengingat bagaimana suara itu sering muncul setiap kali keributan kecil berubah besar, terutama jika para pemuda sudah dalam keadaan tenggen—mabuk.


Pada era 70-an hingga awal 2000-an, tenggen seolah menjadi “rite of passage” bagi sebagian anak muda Medan. Alkohol dan ganja menjadi pintu masuk ke pertikaian antar kelompok. Tawuran, yang kini menjadi berita sehari-hari, sesungguhnya bukan fenomena baru. Ia sudah menjadi bagian dari wajah keras Kota Medan sejak lama, berdampingan dengan aksi-aksi kriminal seperti copet, rampok, hingga begal.


Di masa itu, ada satu wilayah yang legendaris: Sambu, dijuluki warga sebagai “sarang manusia buas.” Para copet beraksi di sana hampir setiap hari. Namun mereka berbeda kelas dengan begal. Copet bekerja halus, sementara begal bekerja brutal—luka dan nyawa bukan lagi sesuatu yang mereka pikirkan.


Medan: Kota Besar yang Berlari Antara Pertumbuhan dan Tekanan Sosial

Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia—sebuah mosaik besar berisi budaya, suku, bahasa, dan agama. Dengan 2,49 juta penduduk dan pendapatan rata-rata Rp10,2 juta per bulan, kota ini menjadi tujuan ekonomi penting di Sumatera bagian utara.


Namun seperti kota besar lainnya, gemerlap Medan memiliki bayangan gelap. Agustus 2024 mencatat tingkat pengangguran 8,13 persen—angka yang memengaruhi dinamika sosial. Kemajemukan budaya dan tekanan hidup perpadu membentuk karakter masyarakat Medan yang dikenal keras, tegas, dan tak jarang temperamental.


Letak geografis—dekat pelabuhan, perbatasan kabupaten, dan jalur perdagangan Selat Malaka—membuat Medan menjadi kota yang sangat mudah diakses, tetapi sekaligus rawan penyelundupan barang terlarang, termasuk narkotika.


Data Pusiknas Bareskrim Polri per 27 Juli 2025 bahkan mencatat 31.711 kasus kejahatan di Sumatera Utara, menjadikannya provinsi dengan tingkat kriminal tertinggi kedua di Indonesia.


Kisah yang Mengguncang: Ningsih dan Anak Lelakinya

Pada satu malam di kawasan Helvetia, Ningsih—seorang ibu yang baru pulang dari bekerja di warung—melihat anak lelakinya, Reza (17), tergolek di teras rumah. Tubuhnya penuh luka. Motor kesayangannya dirampok dua orang tak dikenal.


“Katanya mereka cuma minta kunci. Reza melawan, Bang… lalu dibacok.”

Suara Ningsih bergetar.


Reza selamat, tetapi trauma yang ia alami jauh lebih berat dari lukanya. Ia tidak lagi berani keluar selepas magrib. Kisah Ningsih hanyalah satu dari ratusan cerita lain yang jarang terangkat media, tetapi hidup dalam ingatan masyarakat.


Wawancara Singkat: Polisi Bicara Apa?

Penulis mewawancarai seorang perwira di Polrestabes Medan, AKP (inisial disamarkan):⁸

“Medan bukan kota jahat. Tapi ada kelompok-kelompok kecil yang memanfaatkan celah ekonomi dan lemahnya kontrol keluarga. Begal bukan hanya soal kriminal, tapi juga soal pola hidup dan pergaulan yang tidak terkontrol,” ujarnya.


Ia menambahkan bahwa jaringan narkoba masih menjadi tantangan terbesar:

“Selama narkoba masih beredar, selama itu pula begal dan kriminalitas lain akan mencari ruang. Karena sebagian besar pelaku adalah pengguna.”


Ketika Siskamling Tinggal Kenangan

Pada masa lalu, Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) adalah benteng utama warga Medan. Pos ronda hidup, jadwal ronda berjalan, dan masyarakat memiliki rasa memiliki terhadap lingkungannya.


Kini, banyak pos ronda tinggal bangunan kosong. Warga semakin sibuk dengan urusannya masing-masing. Orang tua lebih sibuk dengan pekerjaan. Anak-anak lebih akrab dengan gawai. Rasa kebersamaan mulai memudar.


Padahal, para pelaku kriminal tidak lagi beraksi dengan cara lama. Mereka menggunakan teknologi, berpindah-pindah lokasi, bahkan bekerja secara terorganisir.


Kembali ke Rumah: Benteng Pertahanan yang Paling Pertama

Langkah pemerintah dan kepolisian tetap penting, tetapi langkah paling fundamental sesungguhnya berada di titik paling kecil namun paling kuat: rumah.


Di sanalah karakter dibentuk. Di sanalah anak muda diarahkan.

Etika, disiplin, dan batas moral tidak bisa lahir dari kebijakan semata—ia harus tumbuh dari pendidikan keluarga.


Guru di sekolah melanjutkan tugas itu dengan ilmu, logika, dan nilai-nilai kebangsaan. Masyarakat memperkuatnya dengan pengawasan sosial. Dan pemerintah hadir sebagai penegak hukum, bukan sebagai penyelamat tunggal.


Karena sejatinya, keamanan adalah hasil kerja bersama.


Penutup: Medan Layak Aman, Dan Itu Tanggung Jawab Kita Bersama

Medan bukan kota yang tumbuh dari kelemahan—ia tumbuh dari keberanian. Kota yang dulu dikenal keras, tetapi penuh solidaritas. Kota yang dibangun oleh para perantau yang tak gentar menghadapi tantangan.


Kini, tantangannya berbeda:

narkoba yang menggerogoti masa depan, begal yang mengancam nyawa, dan kriminalitas yang memecah rasa aman.


Melawan semua itu membutuhkan suara bersama: suara orang tua, suara sekolah, suara polisi, suara tokoh agama, dan suara masyarakat.


Karena pada akhirnya, kita tidak hanya menjaga kota ini untuk hari ini, tetapi juga untuk anak-anak kita kelak.


Medan layak menjadi kota yang aman. Dan itu dimulai dari kita—hari ini, sekarang.

Salam.......

Redaksi : Elindonews.my.id


Tidak ada komentar:

Posting Komentar