Medan | Elindonews.my.id
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara (Sumut) melaporkan terjadinya deflasi yang cukup dalam pada awal tahun 2026. Berdasarkan hasil pemantauan di beberapa kabupaten/kota IHK, Sumut mencatatkan deflasi sebesar 0,75 persen secara bulanan (month-to-month), jauh melampaui angka deflasi nasional yang hanya berada di kisaran 0,15 persen.
Statistik Ahli Utama BPS Sumut, Misfaruddin, memaparkan kondisi deflasi di Januari ini dipicu oleh mulai pulihnya pasokan pangan setelah sempat terganggu bencana besar, Desember lalu.
Walaupun angka tahunan (year-on-year) masih menunjukkan inflasi sebesar 3,81 persen, tren ini sebenarnya sudah melandai dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka 4 persen.
"Ternyata sekarang year-on-year kita 3,81 persen IHK 111,41. Di bulan Januari kita deflasi, dan lumayan dalam sebesar 0,75 persen. Inflasi tinggi kemarin di Desember itu karena bencana, semuanya belum pulih. Sekarang kondisi makro kita potretnya akan lebih bagus ke depannya karena daerah terdampak sudah mulai pulih," kata Misfaruddin, Senin (2/2/2026).
Inflasi Sumut
Meski secara bulanan terjadi penurunan harga pada komoditas cabai, secara tahunan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatatkan kenaikan indeks paling mencolok sebesar 8,42 persen.
Misfaruddin menjelaskan kalau tarif listrik menjadi komoditas dominan yang memberikan andil inflasi tahunan terbesar, yakni 1,13 persen.
"Tarif listrik itu penyumbang paling utama untuk tahunan. Ini termasuk harga yang diatur pemerintah, Fluktuasi harga seperti itu yang membuat listrik memberikan andil besar," ucapnya.
Selain listrik, emas perhiasan juga memberikan sumbangan inflasi tahunan yang signifikan sebesar 0,90 persen, disusul oleh beras 0,30 persen dan ikan dencis 0,26 persen. Sebaliknya, cabai merah justru menjadi komoditas yang memberikan andil deflasi tahunan terdalam sebesar 0,66 persen.
Dari sisi kewilayahan, seluruh kabupaten/kota IHK di Sumatera Utara mengalami inflasi tahunan. Kota Gunungsitoli mencatatkan inflasi year-on-year tertinggi sebesar 8,68 persen, sekaligus menjadi wilayah dengan deflasi bulanan (m-to-m) terdalam.
Sementara itu, Kabupaten Karo mencatatkan inflasi tahunan terendah sebesar 2,73 persen dan menjadi satu-satunya daerah yang justru mengalami inflasi tipis secara bulanan di Januari 2026.
Misfaruddin mengajak masyarakat dan pelaku usaha untuk bersinergi menyukseskan agenda besar BPS tahun ini.
"Tahun 2026 kita akan laksanakan Sensus Ekonomi. Semua sumber ekonomi yang ada akan kita data. Kami berharap para pengusaha dan masyarakat berkenan menerima petugas kami. Ini untuk Indonesia, untuk Sumatera, bukan untuk BPS saja," ujarnya.
Tpm






Tidak ada komentar:
Posting Komentar