Medan | Elindonews.my.id
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sumatera Utara menggelar acara Bincang Bareng Media (BBM) Ekonomi dan Bisnis pada Jumat, 7 Agustus 2026, bertempat di Easy Eats Cafe (Cafe East Eat), Jalan Sriwijaya, Medan. Kepala KPw BI Sumut, Ameriza Moesa, optimis Ekonomi Sumut Tahun 2026 Tumbuh 4,9–5,7 Persen.
AcaraPertumbuhan Ekonomi Sumut: Memaparkan kinerja positif perekonomian Sumatera Utara pada Triwulan II-2026 yang tumbuh sebesar 5,06 persen (yoy).
Proyeksi Ekonomi: Bank Indonesia optimistis ekonomi Sumut sepanjang tahun 2026 mampu tumbuh dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Sektor Unggulan & Ekspor: Menyoroti peran sektor perdagangan dan pertanian, serta peningkatan nilai ekspor di tengah dinamika global.
Sinergi Media: Memperkuat kerja sama strategis antara Bank Indonesia dan insan pers dalam penyebarluasan informasi kebijakan ekonomi dan sistem keuangan.
Acara dipandu Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Utara, Iman Gunadi, serta menghadirkan Kepala Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Provinsi Sumatera Utara, Yovvi Sukandar, dan Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II DJPb Sumut, Edy Purwanto.
Ameriza mengatakan, salah satu faktor yang mendukung prospek pertumbuhan ekonomi Sumut adalah efek dasar (base effect) dari kondisi 2025. Bencana alam yang terjadi tahun lalu berdampak terhadap produksi sejumlah sektor. Ketika aktivitas ekonomi dan produksi kembali menuju kondisi normal, kondisi tersebut akan memberikan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi pada 2026.
“Yang pertama faktornya, disebut ada faktor base effect. Base effect itu karena tahun lalu kita kenal bencana alamnya, produksinya menurun. Sekarang benar-benar normal, akhirnya ekonomi akan naik,” ujar Ameriza.
Selain faktor tersebut, kinerja crude palm oil (CPO) diperkirakan masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Sumut. BI memperkirakan produksi CPO hingga akhir tahun tetap relatif baik, sementara harga yang semakin kompetitif turut membuka ruang bagi peningkatan permintaan dan ekspor.
Menurutnya, berlanjutnya proyek-proyek pemerintah juga menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Sumut. Berbagai pembangunan, mulai dari Proyek Strategis Nasional, pemulihan dan rehabilitasi pascabencana, pembangunan sekolah hingga jalan tol, dinilai tetap memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi daerah.
Ameriza juga melihat pelemahan nilai tukar rupiah memberikan peluang bagi daerah yang memiliki basis ekspor seperti Sumatera Utara.
Ketika rupiah melemah, harga produk ekspor secara relatif menjadi lebih kompetitif sehingga permintaan terhadap sejumlah komoditas Sumut berpotensi meningkat. Kondisi tersebut turut tercermin dari peningkatan ekspor Sumut.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga membuka peluang dari sisi pariwisata. Menurut Ameriza, semakin banyak wisatawan yang datang ke Indonesia ikut mendorong konsumsi rumah tangga dan perdagangan. Kondisi tersebut perlu ditangkap Sumatera Utara dengan memperkuat sektor pariwisata dan mengembangkan Medan sebagai tujuan kegiatan berskala nasional maupun internasional.
“Kami menyebut baik kalau semakin sering Medan jadi tuan rumah untuk even-even, itu bagus untuk ekonomi kita. Selain pariwisata, bisa juga mendadak menjadikan kota MICE,” kata Ameriza.
Ia menilai kedekatan geografis Medan dengan Malaysia dan Singapura menjadi salah satu keunggulan yang dapat dikembangkan. Selama ini, kegiatan konvensi berskala besar lebih banyak berlangsung di kota-kota seperti Bali dan Jakarta, sehingga Medan dinilai memiliki peluang untuk mengambil posisi tersebut dengan dukungan infrastruktur yang memadai.
Dari sisi sektor jasa keuangan, Yovvi Sukandar mengatakan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara juga didukung perkembangan penyaluran kredit. Hingga semester I 2026, pertumbuhan kredit di Sumut tercatat 7,55 persen.
“Dengan angka pertumbuhan kredit 7,55 persen saat ini, Insya Allah kita optimis dari sektor jasa keuangan bisa mendukung capaian target pertumbuhan ekonomi Sumut,” ujar Yovvi.
Menurut Yovvi, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Sumut pada batas bawah proyeksi 4,9 persen, pertumbuhan kredit diperkirakan perlu mencapai sekitar 9,8 persen. Karena itu, sektor jasa keuangan masih memiliki ruang untuk meningkatkan kontribusinya terhadap aktivitas ekonomi hingga akhir tahun.
Dengan berbagai faktor tersebut, BI meyakini perekonomian Sumatera Utara memiliki ruang untuk tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja CPO dan ekspor, proyek pemerintah, konsumsi, pariwisata, aktivitas event serta dukungan sektor jasa keuangan diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Sumut dalam kisaran 4,9–5,7 persen hingga akhir 2026.
=red=





Tidak ada komentar:
Posting Komentar